Daftar 6 BUMN yang utangnya bertambah


INDIEnews.id – Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terlilit utang besar, mulai dari yang bergerak di bidang transportasi udara hingga yang bergerak di bidang konstruksi.

detikcom merangkum BUMN dengan akumulasi utang dari data Kementerian BUMN hingga pejabat BUMN itu sendiri. Berikut adalah informasi lebih lanjut:

1. Angkasa Pura I
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (Wamen BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan posisi keuangan PT Angkasa Pura I (Persero). Dia mengatakan BUMN itu mendapat tekanan berat, salah satunya dari bandara baru yang sedang dibangun.

“Sebenarnya AP I saat ini dalam tekanan besar, utang keuangan mereka saat ini Rp 35 triliun. Dan kalau kita evaluasi, kerugian bulanan mereka Rp 200 miliar, setelah pandemi, utangnya bisa mencapai Rp 38 triliun,” katanya. TIKO, demikian biasa disapa, dalam rapat kerja dengan Komite VI DPR RI, Jumat (3/12/2021) lalu.

“Kami terus melakukan rasionalisasi agar efisien dan beban mereka sangat berat karena bandaranya baru. Sebagai perbandingan, bandara Kualanamo sangat menguntungkan dan sangat tua, dan seperti Yogyakarta, ini beban yang sangat berat,” tambahnya. .

2. Garuda Indonesia
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, total kewajiban atau utang Garuda Indonesia saat ini sebesar 9,75 miliar dolar AS atau 138,45 triliun rupiah (kurs 14.200 rupee). Sedangkan aset perusahaan saat ini hanya US$6,92 miliar. Jauh lebih sedikit dari tanggung jawabnya.

Utang (Garuda) adalah $7 miliar di samping utang lessor, yang belum membayar $2 miliar lagi. Jadi totalnya US$9 miliar,” katanya dalam rapat kerja dengan Komite Keenam Republik Demokratik Kongo, Rabu (11/10/2021) lalu.

3. Krakatau Steel
Menteri Badan Usaha Milik Negara Eric Thohir mengungkapkan banyak utang BUMN yang sudah tua. Oleh karena itu, transformasi terus digalakkan, tidak hanya di perusahaan tetapi juga dalam operasional bisnis.

Eric juga menyebut PT Krakatau Steel (Persero) Tbk memiliki utang US$2 miliar atau berdasarkan rekening perseroan sebesar Rp31 triliun. Dia mengatakan salah satu hutang itu dihasilkan dari investasi $850 juta untuk proyek tanur sembur yang sekarang sudah tidak berfungsi.

“Ini bukan hal yang baik,” kata Eric, “seharusnya ada indikasi korupsi, dan kami akan menuntut siapa pun yang menyebabkan kerugian, karena bukan itu yang ingin kami salahkan, tetapi kami harus memperbaiki penegakan hukum untuk operasi bisnis yang salah. ” Pada Talkshow Bangkit Bersama, Selasa (28/9/2021).

Menteri Badan Usaha Milik Negara Eric Thohir mengungkapkan PTPN memiliki utang sebesar Rp43 triliun. Agama adalah penyakit tua dan ada korupsi yang tersembunyi.

“Contoh yang kita lakukan di PTPN ada yang kuning, merah dan hijau, istilahnya langkah. Kemana langkah yang harus dilakukan ketika PTPN memiliki dana Rp 43 triliun dan ini penyakit lama yang sudah kita ketahui dan ini korupsi yang terselubung. yang harus dibuka dan dituntut bagi mereka yang melakukannya.” Pertemuan keenam, Rabu (22/22/2020).Sejak 21/9/21.

5. PLN
PT PLN (Persero) memiliki utang yang sangat besar yakni mencapai Rp 500 triliun. Menteri Badan Usaha Milik Negara Eric Thohir mengatakan salah satu cara membenahi kondisi keuangan PLN adalah dengan mengurangi belanja modal sebesar 50% (capital expenditures).

“PLN punya utang 500 triliun rupiah, dan tidak mungkin PLN tidak segera direhabilitasi. Salah satu alasannya kenapa kami minta PLN dari awal menurunkan belanja modalnya menjadi 50%, kalau bapak-bapak sekalian. , ingat waktu itu, ujarnya saat rapat dengan Panitia Keenam, Kamis (3/6/2021) lalu. Mengurangi belanja modal menjadi 24 persen, 24 triliun rupee, yang berarti arus kas yang lebih baik.”


6. Wasquita Kariya

Direktur Waskita Karya Destiawan Soewardjono menjelaskan beban utang perseroan mencapai Rp 54 triliun. Proyek konstruksi BUMN berupaya mengurangi beban ini dengan meluncurkan jalan tol secara bertahap seiring dengan selesainya jalan tol.

Ia menjelaskan dalam webinar, Kamis (8/4/2021): “Beban Waskita atas investasi ini sekitar 50 triliun rupiah, dan ini 53 triliun rupiah 54 triliun rupiah yang harus kita selesaikan.”

Sumber: detikfinance